Lewati navigasi

Ada-ada saja ulah beberapa sekolah menjelang lulusan dan penerimaan murid pada tahun ajaran baru 2011/2012  ini.  Ketika UN berlangsung begitu baik negatifnya guru guru membantu murid-murid menjawab soal-soal UN mereka.  Sehinggga murid rasanya diwajibkan membayar “upeti” untuk menandatangani dan sidik jari agar mendapatkan ijazah mereka, atau ucapan terima kasih yang nilai minimalnya disebutkan sebuah keharusan dan katanya itu sudah disetujui oleh komite sekolah, hasil rapat antara dewan guru dan para orangtua murid. Bagaimana dengan murid-murid yang  gak mampu?. Anehnya lagi ketika menjelang penerimaan murid baru, rasanya sebuah bangku disekolah harganya lebih mahal dari bangku baru ditoko meubel agar simurid dapat diterima duduk disekolah negeri tersebut.

Aku sih selalu tekankan pada murid-murid itu bahwa BELAJAR itu adalah HAK kalian, bukan KEWAJIBAN!, makana banyak murid merasa muak, bete mengikuti pelajaran disekolah, blon lagi guru yang super cuek akan kemajuan ilmu pengetahuan yang didapatkan simurid. Les ini dan les itu sudah dilakukan murid baik disekolah, dikursus, di Bimbingan Study/Belajar, bahkan Les private dirumah guru. Tapi apa yang terjadi?, banyak pulak murid nyeleneh pergi main-main, nyasar sengaja ke warnet misalnya. Sudah sangat jarang murid mengajukan pertanyaan ketika guru menerangkan ilmunya, dan sama saja pulak, guru pun jarang memberi kesempatan bertanya pada murid-muridnya.

“Ada pertanyaan anak-anak’?, tanya siguru, atau ” Bu, Mengapa sianu kalau dikalikan sianu hasilnya sianu?” tanya simurid.

Murid malah paling senang mendapatkan kesempatan; Guru-guru rapat murid-murid boleh pulang lebih awal. Kapan  pulak ada kesempatan; Murid-murid rapat, guru-guru boleh pulang lebih awal?.

Dikotaku ini, Kemungkinan sangat rendah sekali mutu pendidikannya, dan entah jenis permainan apapun itu rasanya kurang berbobot, padahal ada beberapa jenis permainan yang disamping enak, kita juga mendapatkan banyak ilmu dan informasi yang berharga didalamnya, apalagi game online, disitu kita bisa sambil belajar bahasa inggris dan komputer bukan?. Bahkan bisa-bisa kita mendapatkan uang dari games tersebut.

Eh tahe, Itulah Pengarah dan yang diarahkan tidak mempunyai ikatan bathin, emosi, dan keuntungan yang saling mengisi dan menguatkan. Pengarah yang aku maksudkan adalah para guru, orangtua, pemerintah, pihak swasta, dan orang-orang kaya yang peduli. Yang diarahkan maksudku adalah para murid-murid, para generasi masa depan bangsa ini mau jadi apa dan kemana mereka kelak????.

Tak ada istilah bodoh, tapi istilah SEMANGAT itu yang harus ditanamkan dan dipertahankan bersama-sama untuk mencapai sebuah tujuan dan pengabdian!. Jadi, aku mohon KREATIF lah wahai engkau pahlawan tanpa tanda jasa yang gajinya sudah sangat menggiurkan, dan wahai engkau para murid KREATIF dan SEMANGATLAH! dengan fasilitas dan kemudahan-kemudahan yang sudah tersedia bagimu!. Sbab katanya, orang miskin bisa sekolah sampai setinggi-tingginya, bisa mendapatkan pekerjaan dan jabatan setinggi-tingginya. Ayo kita buktikan….!. Selamat memasuki TAHUN AJARAN BARU 2001/2012.

Chris Whitehead, bocah 12 tahun asal Inggris, merasa kesal luar biasanya pada tempatnya belajar. Sehingga ia melakukan aksi dengan memakai rok ketika berada di sekolah, ini sebagai bentuk protes karena para murid perempuan diperbolehkan memakai rok pendek. Namun, murid lelaki diharuskan tetap memakai celana panjang. “Ini bentuk diskriminasi. Panas membuat kami ingin pakai celana pendek.” katanya

Chris lalu melakukan aksi protes yang konyol dan mengundang perhatian. Ia mengenakan rok ke sekolahnya di Impington Village College yang terletak tak jauh dari Cambridge, Inggris. “Saya tak malu. Memakai rok sama rasanya seperti memakai celana, hanya lebih lega,” katanya seperti dikutip Daily Mail, Rabu 11 Mei 2011.

Chris yang mengenakan rok tidak melanggar aturan sekolah. Pasalnya, aturan sekolah hanya menyebutkan bahwa murid laki-laki tak boleh memakai celana pendek ketika musim panas. Tak ada larangan bagi laki-laki mengenakan rok. “Saya akan memakainya sampai sekolah mengubah aturan itu,”
ujarnya.

Chris ngotot untuk memakai celana pendek karena merasa kepanasan. “Mengganggu konsentrasi saat belajar,” kata Chris. Dia mendapatkan rok dari adiknya, Joanna, 11 tahun, yang ikut melakukan demonstrasi bersama 30 murid lainnya.

Para demonstran cilik ini juga membuat berbagai poster bernada protes. “Cool shorts, not hot pants” lalu ada juga poster yang berbunyi “What’s wrong with my legs?”‘

Ibu Chris, Liz, 50 tahun, mendukung apa yang dilakukan anaknya. Dia bangga anaknya memperjuangkan sesuatu hal yang diyakininya benar. Hal yang sama juga diungkapkan ayahnya, Brian, 48 tahun. “Ini sebuah protes yang kreatif,” ujarnya. (tempo)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.