Lewati navigasi

Hari ini, 12 Juli 2011 , sore jam 5.  Dua orang perempuan muda datang kerumahku . Aku tidak mengenal mereka. “Iya tunggu bentar, aku sedang mandi”. jawabku. Kelar mandi, aku berpakaian rapi. “Bang Naek ya?” tanya seorang perempuan yang lebih tua.  “Iya aku, ada apa ya?”. tanyaku balik. “Begini bang, Abang kan guru les nya adek aku, monica, katanya monica belum bayar uang  les selama 2 bulan terakhir, tahun lalu”. “akh, tahun lalu?,siapa monica?, terus ada apa?”. pikirku dalam hati.

“Begini bang, tadi siang jam 12 an, monica sudah meninggal, dan baru saja dikuburkan sore ini. Jadi supaya roh adikku monica tenang disorga sana, maka segala utang-utangnya haruslah kami bayarkan selaku keluarganya dan selaku kami beragama islam, terimalah uang ini bang, Apa memang cocok segini jumlah uang lesnya monica?” tanyanya sambil menangis menatapku.  Aku kaget dalam kebingungan, siapa monica?, dimana rumahnya?, anak lesku?. Kuingat-ingat semua anak lesku, tetap aku tak ingat yang namanya monica.

“Abang harus menerima uang ini”, pintanya terisak-isak padaku. ” Oala kak, aku sendiri lupa siapa saja anak lesku, kalo anak-anak datang mau les kerumahku aku tak pernah memaksa mereka mau bayar atau tidak, datang  saja kerumahku syukur dia mau belajar, jadi adeknya kakak itu tidak pernah berutang padaku. Tapi, kalo aku yang datang kerumah-rumah anak-anak lesku, barulah aku wajib dibayar, begitunya kak.” jawabku. “Tidak bisa bang, ini sudah kewajiban kami, monica sudah pernah cerita pada kami tentang abang, dan adik ini, kawannya lah yang menunjukkan alamat rumah abang, kami sendiri tidak tahu siapa dan dimana abang, Tolong terima ya bang, kami harus pulang sekarang dirumah masih sangat sibuk”.

Mohonnya sambil memegang kedua tanganku dan meletakkan uang ketanganku. ” Maafkan atas kesalahan adikku selama ini ya bang, biar dia tenang disana, kami permisi pulang ya bang, terima kasih” gadis muda itu masih terisak dan meninggalkanku. “Oh iya, sama-sama, dimananya rumah kalian?” jawabku sambil terima uang itu dengan perasaan tak enak dan bingung. ” Dijalan Majapahit bang”. jawabnya. Mereka pun pergi meninggalkan rumahku.

Kubatalkan makan malamku, Segera kubeli sebuah amplop  dan meluncur kerumah monica di jalan majapahit yang berjarak kurang-lebih 5  km dari rumahku. Pastilah gampang menemukan rumahnya dengan kejadian duka cita. Benar saja, orang-orang masih ramai didalam dan diluar rumah, sementara jasad monica memang  sudah dikebumikan.

” Permisi Bang, Mamanya monica didalam?”, tanyaku pada pemuda setempat. ” Didalam bang, masuk saja” jawabnya ramah.  “Permisi, Ibunya Monica ya?,  turut berduka cita ya bu”, ucapku sambil menyalam tangannya dengan sebuah amplop, dan juga menyalam ayahnya, nenek, dan keluarganya yang lain. ” Bapak siapa?’ tanya sinenek. “Aku Naek Marpaung, Guru Lesnya Monica, TAHUN LALU, yang tadi baru saja kakaknya datang kerumah memberitahuku”. jawabku.

Pecahlah suara koor tangisan yang sangat menyayat hati di seisi rumah itu. Bapaknya Monica memeluk aku menangis-nangis begitu kuatnya. Semua yang ada didalam rumah itu menangis. Gara-gara Kebodohanku!. Maafkan anak kami ya Pak, dia baru saja pergi, monicaaaaaaaaa, anakkuuuuuuuuuuu, ukh…ukh…..ukh….. ini bang Naek sudah datang. Bang Naek mau kan memaafkan monica?, pinta-pinta keluarga besarnya padaku menangis-nangis sekuatnya.

Akupun terdiam membiarkan mereka sejenak berduka lara dalam kepedihan.  Aku pun baru bisa duduk setelah seorang ulama menenangkan mereka. ” Seminggu yang  lalu  sebelum Monica meninggal, Monica pernah berkata pada kami bahwa dia pernah les bahasa inggris sama kawan-kawan sekelasnya dirumah orang dan belum bayar uang lesnya selama 2 bulan. Sudah kewajiban dan hukum bagi kami umat muslim untuk membayar segala utang-utang salah seorang keluarga kami yang meninggal” Kami sendiri kesulitan mencari tahu siapa gurunya dan dimana lesnya, karna monica penyakit jantungselama 3bulan  dan koma seminggu ini, Maafkan anak kami monica ya Pak, Tolong ikhlaskan kepergiannya…..” Ibu itu kembali menangis. Akh gara-gara kau ini semua naek bodoh!, malah bikin orang terus menangis saja kau!, pikirku.

“Begini bang, tadi siang ketika diumumkan tentang utang-utang anak kami monica ini, pikir semua orang yang melayat tidak ada beban, padahal kami pun sangat terganjal dihati, begitu teringat kembali perkataan monica seminggu yang lalu. Untunglah kawan sekelasnya datang melayat, memberitahu kakaknya monica keberadaan abang, Kami sendiri tidak tahu monica pernah les bahasa inggris dirumah orang selain les di sekolahnya sendiri, maafkan anak kami pak, dia anak yang pintar”. Jelas Bapaknya lagi.

Akhirnya, jelaslah bagiku. Kulihat photonya monica didinding, kutatap dalam-dalam mencoba mengingat kenanganku bersama monica. Berdiri bulu romaku. Kenangan itu terbuka lebar-lebar. Kuingat, betapa cantik, semangat, dan pintarnya monica belajar jauh-jauh kerumahku. Tak kusadari menetes air mataku, mengingat  cita-citanya monica ingin kuliah dan kerja diluar negeri, makanya dia mau serius belajar bahasa inggris dasarnya dulu denganku yang sok jago English. Diphotonya kuberkata pada monica juga pada Tuhan: Monica, kamu tidak pernah berutang padaku, bersalah padaku, teruslah belajar disana, kau pasti bisa!, Tuhan ijinkan dia reinkarnasi entah berapa tahun lagi pun itu.

Lalu kucoba tenangkan diri dan kembali menjelaskan kepada keluarganya monica. “Hal begini, saya tidak begitu mengerti bu, pak, nek, jadi sebenarnya saya sendiri tidak pernah merasakan rugi, kecewa, atau apapun itu yang dilakukan mendiang monica. Mendengar kejadian seperti ini saya sendiri sangat sedih, saya turut berduka cita Bu, Pak, nek.  Soal les itu, Memang selama ini dan masih sampai dengan sekarang, dirumah saya selalu menerima anak-anak yang mau belajar atau les.

Saya tidak pernah memaksa, menuntut mereka mau membayar, mereka datang saja mau belajar pada saya, saya sudah bersyukur. Jadi itu sifatnya tidak terikat dengan utang-piutang Bu. Memang Monica dan teman-temannya tahun lalu kelas 6 sd satu sekolah kurang lebih 20 an orang datang les pada saya 2x seminggu, hanya 3 bulan saja, dikarenakan disekolah mereka sudah diwajibkan les untuk persiapan UN(Ujian Nasional). Sengingatku, bulan 1 s/d bulan 3, tahun  2010 kemaren. Jadi sudah lebih 1 tahun itu. Tapi kalo saya yang datang kerumah anak les, maka mereka wajib membayar saya dan itu jelas-jelas sepengetahuan orang tua yang sering pastinya saya lihat dan kenal. Saya sendiri tidak mengerti, mengapa bapak dan ibu tidak tahu Monica les bahasa inggris diluar? atau dirumah orang yaitu saya?.

Tapi ya sudahlah. Monica anak yaang rajin bertanya, kreatif, dan suka menghafal bahasa inggris asal dikelas les saya. Saya tahu dia selalu dapat juara 3 besar disekolahnya. Bahkan nilai bahasa inggrisnya 9 diraport. Saya hanya mencoba membantu mental mereka dan membangkitkan kreatifitas anak-anak, bukan hanya harus menjadi pandai, atau dari anak orang kaya bisa les diluar. Tipe murid seperti Monica yang saya suka untuk diajari. Tapi, Tuhan mengambilnya dari kita, Kita ikhlaskan dia ya Bu, Pak, Nek”. Pesanku sok tegar, padahal dalam hatiku hancur  Berselemak Darah Pengecut Pada Anak-Anak.

Adzan Maghrib pun tiba, aku pun permisi pulang dan juga mengatakan maaf pada monica dalam photonya.

Turut Berduka Cita…. Selamat jalan Monica

Satu komentar

  1. Wahh kisah yang memilukan


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.